Perjalanan Singkat Episode 6

Perjalanan Singkat

Oleh : Muhammad Rafiyudin

Pagi hari yang cerah. Ahmad berjalan menyusuri jalanan Desa, mengenakan seragam putih, dan juga celana merah yang hanya sampai dengkul. Ia berjalan bersama dengan beberapa siswa dari sekolah dasar. Di tengah perjalanan ia menjumpai beberapa teman madrasahnya, yang juga akan mengikuti tes tulis. Kali ini tes tulis bukan di laksanakan di SMPN1 Cikande, melainkan di SMP Islam El-Mizan. Ahmad tidak merasakan ada beban pikiran, karena kegagalan kemarin.
Sesampainya di depan Masjid, yang tepat berada di depan SDN Parigi, Ahmad melihat banyak sekali orang yang mengenakan seragam putih dan celana merah, ia hampir tak bisa membedakan mana teman seangkatannya dan mana yang benar-benar anak sd.
 Tepat di depan gerbang sekolah. Ada segerombolan alumni SDN Parigi yang sedang asyik berbincang sambil tertawa begitu lepas.
“ Wih, awas-awas ada alumni SDN Kukun” Ketus salah satu ari segerombolan itu, ketika Ahmad berjalan melewati.

Ahmad hanya diam dan terus berjalan masuk ke dalam sekolah, ia melewati segerombolan itu tanpa ada sepatah kata apapun. Jangankan bicara, menoleh pun tidak sama sekali. Ada perasaan kesal dari Ahmad, karena pada waktu ia masih duduk di kelas 5 sd, SDN Kukun dan SDN Parigi selalu berseteru, sudah seperti anak STM saja. Terbukti, pada saat O2SN tingkat kecamatan, pada pertandingan sepak bola yang mempertemukan SDN Kukun dengan SDN Parigi. Laga itu begitu panas sudah seperti laga antara Persib vs Persija. Di tambah dengan para supporter sekolah masing-masing yang banyak, membuat suasana pertandingan kala itu begitu ramai. Skor pertandingan itu di menangkan oleh SDN Kukun dengan skor 2-1. Dari pertandingan itu pula SDN Kukun melangkah ke babak selanjutnya, sampai akhirnya menjadi juara 1 dalam cabang sepak bola, dan menjadi juara umum 3 di O2SN tersebut.

***

Ahmad masih canggung dengan suasana sekolah dan juga beberapa siswa/I yang lainnya. Namun, tidak butuh waktu lama untuk Ahmad menyesuaikan diri dengan yang lain. Baru beberapa menit saja ia sudah kenal dengan beberapa orang. Ya, Ahmad adalah seorang anak yang mudah kenal dengn orang-orang baru. Jadi sudah tidak heran apabila ia sangat mudah bergaul dengan orang yang baru di kenalnya. Di tambah sudah ada beberpa orang yang ia kenal sejak madrasah. Yang membuat Ahmad tidak merasakan canggung lagi.

***

Terlihat seorang guru berdiri di depan kantor. Yang tak lain dan tak bukan adalah istri dari kepala sekolah. Istri dari kepala sekolah ini bernama Ibu Mulyawati yang biasa di sapa dengan Bu Mul. Dengan muka ceria ditambah dengan senyumannya, Ibu Mul menyambut para calon siswa/I nya.
tidak lama kemudian, terdengar suara bel, yang menandakan semua calon siswa/I harus segera masuk ke ruangannya masing-masing. Semua calon siswa/I yang sedang duduk di depan ruang kelas, di depan gerbang, dan di lapangan semuanya bergegas untuk masuk.

Ahmad duduk di ruangan kelas yang bersampingan dengan kantor. Ia duduk di meja kedua barisan pertama dari pintu masuk. Ketika semua peserta sudah masuk ke ruangannya masing-masing, para pengawas pun segera memasuki ruangan untuk membagikan lembar soal dan lembar jawaban. Seperti biasa, saat pertama kali masuk pengawas meminta satu orang untuk memimpin do’a sebelum tes tulis dilaksanakan, Ahmad memberanikan diri untuk memimpin berdo’a.

Kemudian pengawas membagikan lembar soal dan lembar jawaban. Setelah selesai membagikan lembar soal dan lembar jawaban, pengawas itu mempersilahkan semua peserta untuk mengerjakan. Sekitar 20 menit berlalu setelah pengawas mempersilahkan para peserta untuk mengerjakan, pengawas itu keluar meninggalkan ruangan untuk mengambil sesuatu miliknya di kantor. Serentak suasan ruangan yang adem tidak ada suara sedikitpun, berubah menjadi suasana pasar. Ahmad, tetap tenang di kursinya, sambil terus membaca soal. Terdengar sebuah kalimat dari bagian belakang barisan terakhir dari pintu yang mengatakan “ Ahh, ini mah mau betul semua apa engga pasti diterima, udah weuy santai ajah”
Ahmad yang mendengar kalimat tersebut langsung berhenti membaca soal, dan langsung menatap kearah pojok kelas, ia merasa sedikit lega. Karena, ia percaya bahwa ia tidak akan gagal untuk yang kedua kalinya. Namun, meski demikian. Ahmad tetap mengerjakan soal-soal dengan teliti dan penuh hati-hati.
“ Yang sudah kumpulkan” Ucap pengawas yang datang tiba-tiba dan mengagetkan seisi ruangan.

***

Setelah mengumpulkan lembar jawabannya. Ahmad meninggalkan ruangan, dan duduk di depan ruangannya. Tak lama kemudian, segerombolan orang yang tadi pagi di gerbang pun ikut keluar, segerombolan itu bukan hanya meninggalkan ruangan, melainkan meninggalkan sekolah tersebut. Karena, sudah tidak ada kegiatan lagi. Kegiatan akan dilaksanakan di hari selanjutnya.
Ahmad yang sedang duduk pun meninggalkan sekolah tersebut untuk kembali kerumahnya. Ia berjalan pulang dengan temannya Deden, yang kebetulan rumahnya satu arah dengan Ahmad. Deden adalah seorang alumni dari SDN Parigi, yang memiliki postur tubuh tinggi, dengan rambut cepak. Deden sering menjadi suruhan teman-temannya. Ya, laki-laki ini postur tubuhnya saja yang tinggi. Namun, nyalinya begitu pendek.

***

Seperti biasa, sesampainya dirumah, Ahmad mengetuk pintu dan mengucapkan salam terlebih dahulu. Kemudian masuk menuju kamarnya.
Ia sudah tak pusing-pusing lagi memikirkan apakah ia lolos atau tidak. Karena, semua hasil tes di sekolah pilihan orang tuanya akan seluruhnya diterima. Tidak banyak memang, peserta yang mendaftar di sekolah tersebut, berbeda pastinya dengan SMPN 1 CIkande yang menerima sampai 10 kelas.
Bersambung…

#OneDayOnePost #ODOPbatch5 #BismillahLulus #TantanganVII&VII  #CerbungEpisode6


Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Perjalanan Singkat Episode 6"

Beri aku 1001 kritik dan saran :)